celaka kau buku teori berbaur kemewahan
aku perlukan buku baru untuk diratah
Sunday, August 28, 2011
Saturday, August 27, 2011
caturan-caturan si raja para 1
Si raja terlampau obses berfikir
sedangkan permaisuri lawan bersahaja
tercatur ke kubur strategi sendiri
akhirnya wilayah tinggal tak beraja
sedangkan permaisuri lawan bersahaja
tercatur ke kubur strategi sendiri
akhirnya wilayah tinggal tak beraja
Friday, August 26, 2011
caturan-caturan si raja
ternyata aku tersalah buah catur
yang ku mahu gerakkan buah permaisuri
sida-sida yang sibuk menyusul
si kuda memberi amaran
jangan kau ambil masa yang lama
memerhati dalam gelap kelambu
siang kau lupa
malam dia sudah kabur
namun si askar-askar kecil sudah terlebih dahulu
menghasut sedar hingga terbit mentari
hilang sabar penat menunggu
tumpas di tengah hari
tersedar senja
kamar permaisuri lawan yang mahu ditawan
sudah gelap jendela tertutup
kasatria yang lain menghilai tawa
si raja salah mencatur cara menung terduduk
yang ku mahu gerakkan buah permaisuri
sida-sida yang sibuk menyusul
si kuda memberi amaran
jangan kau ambil masa yang lama
memerhati dalam gelap kelambu
siang kau lupa
malam dia sudah kabur
namun si askar-askar kecil sudah terlebih dahulu
menghasut sedar hingga terbit mentari
hilang sabar penat menunggu
tumpas di tengah hari
tersedar senja
kamar permaisuri lawan yang mahu ditawan
sudah gelap jendela tertutup
kasatria yang lain menghilai tawa
si raja salah mencatur cara menung terduduk
biduan penakut
keluar ku duduk
hitam awan menunggu
kedalam ku duduk
cerah riuh suara sumbang
bosan
aku tunggu sinar siang cahaya pelangi tak mendatang
ada apa dengannya
spesifikasi magisnya mengusik jiwa
setelah ku baca nukilan karya hati
dari mata seorang pelangi
perlukah aku menongkat terus tunggu
atau berhenti mengeluh
merendah sungai penuh ragu
atau mungkin ini hanya perasaan ku yang berlendir cemburu
haha
atau mungkin terlampau memikirkan tembok peluru
hitam awan menunggu
kedalam ku duduk
cerah riuh suara sumbang
bosan
aku tunggu sinar siang cahaya pelangi tak mendatang
ada apa dengannya
spesifikasi magisnya mengusik jiwa
setelah ku baca nukilan karya hati
dari mata seorang pelangi
perlukah aku menongkat terus tunggu
atau berhenti mengeluh
merendah sungai penuh ragu
atau mungkin ini hanya perasaan ku yang berlendir cemburu
haha
atau mungkin terlampau memikirkan tembok peluru
Thursday, August 25, 2011
For wine and blood are red kepada Bicara biduan jalanan
Aku dah tukar nama blog. sebelum ni berbahasa barat. bukan tak akan berbahasa barat lagi di blog ni. cuma aku rasa sudah tidak relevannya nama tu walau hakikatnya aku masih keliru akan warna merahnya yang sama. biarlah, merahnya sudah tak penting. aku harus kejar merah yang baru. aku sering hamparkan ayat "august fame" sama ada di muka buku ataupun di blog. ianya bukan omongan kosong tanpa maksud. tersirat pada bulan terpampang. bulan ogos, bulan ketemu merah pertama. 8 bulan sebelumnya didatangkan mimpi-mimpi mengirim kabar namun tidak dicatat. ditimbuskan nama merah itu dengan panggilan rekaan agar tidak terkeliru.
sekarang, hari ini aku membuka ruang. untuk permulaan baru ranting-ranting hidup merangkak. biar akarnya tua tapi masih tetap teguh. tidak perlu ditanam benih baru. akar yang lama banyak ceritanya. biar diteliti penuh lumat dihadam agar tak terulang menjalar lebih dalam.
sekarang, hari ini aku membuka ruang. untuk permulaan baru ranting-ranting hidup merangkak. biar akarnya tua tapi masih tetap teguh. tidak perlu ditanam benih baru. akar yang lama banyak ceritanya. biar diteliti penuh lumat dihadam agar tak terulang menjalar lebih dalam.
tunggu jangan hilang lagi
Menunggu hingga tersentuh embun
tak ketemu lagi hari ini
pagi tidak menjanjikan matahari
mungkin mendung hujan yang akan tiba
celakanya apa yang aku rasa ini
tiap kali ingin bermulanya sesuatu
walaupun aku belum tahu kemana arahnya
tergantung dalam tanda tanya
biarpun untuk satu jangka masa
ia menyangkut gelisah dalam diri
mungkin ini nasib aku
orang seperti aku
seperti jiwa philanthropist yang lain
mengabdi diri untuk mencorak senyum insan lain
namun aku masih berharap
kerana aku laparkan rasa itu
bagaimana pahit manis rasa disuap
seperti ingatan lampau yang dicorak penuh tragis
jika berkesempatan ketemu lagi
akan aku runtuhkan niat hati
"tunggu jangan hilang lagi"
tak ketemu lagi hari ini
pagi tidak menjanjikan matahari
mungkin mendung hujan yang akan tiba
celakanya apa yang aku rasa ini
tiap kali ingin bermulanya sesuatu
walaupun aku belum tahu kemana arahnya
tergantung dalam tanda tanya
biarpun untuk satu jangka masa
ia menyangkut gelisah dalam diri
mungkin ini nasib aku
orang seperti aku
seperti jiwa philanthropist yang lain
mengabdi diri untuk mencorak senyum insan lain
namun aku masih berharap
kerana aku laparkan rasa itu
bagaimana pahit manis rasa disuap
seperti ingatan lampau yang dicorak penuh tragis
jika berkesempatan ketemu lagi
akan aku runtuhkan niat hati
"tunggu jangan hilang lagi"
Tuesday, August 23, 2011
aksi biduan tersembunyi
Semalam aku mengintai dari sisi kotak informasi
ku pandang dari jauh sisi wajah indah pelangi
seakan ada yang kurang pada riak warnanya
seperti kurang cahaya matahari yang terbias
bukankah semalam itu gelap?
gambaran kiasan melalui alterasi jelmaan rekaan kata
ternyata masih belum cukup untuk mengambarkannya
aku mundar mandir disekitar cahayanya
mengenal pasti apakah benar cahayanya malap
padahal ingin benar menatap mata punca rasa
terlampau asyik mengintai tidak lekang mata mencuri pandang
jenayah aku seakan berfungsi mengusik jiwa rasa mendatang
padahal tidak ku kenal bahkan nama tidak didulang
menjamah riak dihidang tanpa sedar intaian dibalas pandang
merah padam terpampang di muka
dek pandangan kilasan cahaya
terpancar keluar soalan bodoh kalut dari mulut tanpa tapis
mungkin penyamaranku telah dihidu
arakian menjadi cemerkap dalam hal segala
aku alihkan padangan
beredar aku dari ruang legar
aku siulkan alunan nada penenang jiwa
buat ubat perasaan terpagar
dipenghabisan temu ditinggalkan aku sesirih nota
bertulisan rumi barat menyelit judul melodi bertuan
ku kunyah nota itu di kotak informasi
diselak setiap maklumat terpampang bagi meruntai kunci
tersirat dibaca akal menelan tuli
ada yang cuba disampaikan
segar namun masih belum pasti
ku pandang dari jauh sisi wajah indah pelangi
seakan ada yang kurang pada riak warnanya
seperti kurang cahaya matahari yang terbias
bukankah semalam itu gelap?
gambaran kiasan melalui alterasi jelmaan rekaan kata
ternyata masih belum cukup untuk mengambarkannya
aku mundar mandir disekitar cahayanya
mengenal pasti apakah benar cahayanya malap
padahal ingin benar menatap mata punca rasa
terlampau asyik mengintai tidak lekang mata mencuri pandang
jenayah aku seakan berfungsi mengusik jiwa rasa mendatang
padahal tidak ku kenal bahkan nama tidak didulang
menjamah riak dihidang tanpa sedar intaian dibalas pandang
merah padam terpampang di muka
dek pandangan kilasan cahaya
terpancar keluar soalan bodoh kalut dari mulut tanpa tapis
mungkin penyamaranku telah dihidu
arakian menjadi cemerkap dalam hal segala
aku alihkan padangan
beredar aku dari ruang legar
aku siulkan alunan nada penenang jiwa
buat ubat perasaan terpagar
dipenghabisan temu ditinggalkan aku sesirih nota
bertulisan rumi barat menyelit judul melodi bertuan
ku kunyah nota itu di kotak informasi
diselak setiap maklumat terpampang bagi meruntai kunci
tersirat dibaca akal menelan tuli
ada yang cuba disampaikan
segar namun masih belum pasti
Saturday, August 20, 2011
unchanging behaviour
Well the truth was hidden with a beautiful lie. even it's done for reason, it's never really the main intention. i should have seen a clear threat but i was too deep in love to see. too deep in love to show my emotion especially the jealousy. because i don't want to spread the crack on a glass full of memories. but the memories already overloaded and cracked the glass itself. i should never give in to much at the very beginning. it was my fault and i myself are responsible for the quality of it. no need for apologies and excuses because I've heard enough.
i have never known anyone who actually believed that i was enough.
my old believes still working and no body can prove it wrong for now.
the gift is mine for someone to break it through,
in future it will be resolve, by someone from a few.
my old believes still working and no body can prove it wrong for now.
the gift is mine for someone to break it through,
in future it will be resolve, by someone from a few.
Tuesday, August 16, 2011
august was not so fame anyway
I did try to approach my ex-bandmates to form a band again a few days ago. with a limited time left it almost become impossible. everybody seems to have their own commitment now. limited time available, distance and schedule. but who knows luck will strike again this month on the next meet up. we'll see.
i had a good sleep these past four days. thou the outcomes really heading near to the paranoia land i manage to keep myself busy, steady life on a rocky road. i will not open my personal note for the time being as it hold so many things to remember. let it kept in silent for now.
done some cleanup on my emails and cellphone memory card. there's some picture left on Facebook. i don't know how long it will be kept there. time will not be the heal, the further i go the more i lose, so i wont spent my wit on a useless hunt.
i had a good sleep these past four days. thou the outcomes really heading near to the paranoia land i manage to keep myself busy, steady life on a rocky road. i will not open my personal note for the time being as it hold so many things to remember. let it kept in silent for now.
done some cleanup on my emails and cellphone memory card. there's some picture left on Facebook. i don't know how long it will be kept there. time will not be the heal, the further i go the more i lose, so i wont spent my wit on a useless hunt.
Being overshadowed by the wings of awe
pale cheeks turned to red
the underlip of fear flow low
as i create something from my original image
its for the crown that has been borrowed.
pale cheeks turned to red
the underlip of fear flow low
as i create something from my original image
its for the crown that has been borrowed.
Saturday, August 13, 2011
limau yang diperah pada hati tetapi masih tersenyum
hadir aku satu, biar ada pelanduk tapi aku tetap satu, ber"teater" pada paksi sendiri mungkin memainkan watak yang direka tapi aku satu, biar menjalajah usia dicari pengganti tapi jenis aku tetap satu.
sekurang-kurangnya itu yang aku percaya sekarang.
Friday, August 12, 2011
dua kali. esok kali ketiga ke?
mengunyah baris-baris ayat sendiri yang tersirat,
diselak catatan melangkah penuh tertib meniti ayat,
merobek setiap suku kata penuh lumat.
terasa masih ada yang belum disurat.
aku tersenyum membaca peta catitan sendiri tanpa paksi,
dibiarkan berguris terus dari hati,
tanpa tapisan bergelut cermat menapis ayat,
lagi pula buat bacaan sendiri merakam hari yang palat.
terselit ilusi optikal mantan pelengkap hati,
aduh.......(kenapa boleh jumpa pulak gambar ni)
itu semalam.
hari ni cerita lain.
Pagi-pagi lepas sahur dah terdajal diri sendiri, a day before time yang sama situasi yang sama tempat yang berbeza (bezanya atas katil dengan depan pc je. ahha). dan bezanya bila terjumpa gambar kala bersiar-siar di catatan sendiri dengan berblog-walking di blog orang lain.
diselak catatan melangkah penuh tertib meniti ayat,
merobek setiap suku kata penuh lumat.
terasa masih ada yang belum disurat.
aku tersenyum membaca peta catitan sendiri tanpa paksi,
dibiarkan berguris terus dari hati,
tanpa tapisan bergelut cermat menapis ayat,
lagi pula buat bacaan sendiri merakam hari yang palat.
terselit ilusi optikal mantan pelengkap hati,
aduh.......(kenapa boleh jumpa pulak gambar ni)
itu semalam.
hari ni cerita lain.
(blog baru jumpa. sedaya upaya memecah hint tadi :P)
baik, sambung. rambut,senyum, memek muka terhampar segar buat aku teringat. dulunya aku menafikan nafsu dunia untuk alam dongengan hayalan bersama. tinggalkan minat alunan musik jiwa, hancur lebur impian band-mates mencipta nama. sanggup kejar mengatur kembali hidup berjauhan di negeri orang. silap aku dulunya sendiri cuai mencatur hidup tergadai harta. terkeliru memilih yang mana harus didahulukan, yang mana harus dikemudiankan. silap itu seni hidup semua insan, ranting-ranting pengalaman. aku cuba telan setelah lebih dua bulan mengunyah. masih tersekat-sekat terasa dikerongkong ingatan.
mungkin ada baiknya aku jalani hidup beradat lama. kurang sakit rasanya. mungkin. zaman moden ni banyak dugaannya. aku harus elakkan diri dari Kuala Lumpur. untuk jiwa bebas yang teguh pun akan cair meluluh kalau hari-hari diduga. terlampau bebas. aku kurang gemar cara hidup bergini walaupun realitinya aku terhibur.
mungkin ada baiknya aku jalani hidup beradat lama. kurang sakit rasanya. mungkin. zaman moden ni banyak dugaannya. aku harus elakkan diri dari Kuala Lumpur. untuk jiwa bebas yang teguh pun akan cair meluluh kalau hari-hari diduga. terlampau bebas. aku kurang gemar cara hidup bergini walaupun realitinya aku terhibur.
dengengan itu bisa dicapai,
cuma masa sabar yang dicabar.
buat diri hilang pedoman.
Thursday, August 11, 2011
satu tributasi pagi
Ganggu waktu tidur ku,
memoir silam kini hanyalah dongengan yang terngiang di cebis-cebis ingatan terbiar.
dibiarkan tersepit di celah-celah kabut peribadi diantara manis dan pahit,
berlegar-legar dipintu masuk dan keluar.
kadang-kala ilusi menerjah,
menyubur mekar mencemari realiti hidup.
hujan pagi tidak lagi bisa mendamaikan tidur,
nyanyian burung dikala cahaya terbit menyemarakkan kehibaan.
tika kebebasan galak dibudayakan,
kita belajar dari derita yang pedih.
aku memang pengunyah derita yang lumat,
buat apa harus gopoh melupai, sedangkan setiap derita yang kita lalui adalah ranting seni menuju ke pengalaman insani.
harusnya kita sabar meneliti, daripada hanya biarkan ia mengalir dan mengulangi.
cukuplah, sudah banyak yang tertinggal.
penat untuk dikejarkan.
titip setiap detik waktu yang tinggal.
biar akarnya yang sebarkan.
memoir silam kini hanyalah dongengan yang terngiang di cebis-cebis ingatan terbiar.
dibiarkan tersepit di celah-celah kabut peribadi diantara manis dan pahit,
berlegar-legar dipintu masuk dan keluar.
kadang-kala ilusi menerjah,
menyubur mekar mencemari realiti hidup.
hujan pagi tidak lagi bisa mendamaikan tidur,
nyanyian burung dikala cahaya terbit menyemarakkan kehibaan.
tika kebebasan galak dibudayakan,
kita belajar dari derita yang pedih.
aku memang pengunyah derita yang lumat,
buat apa harus gopoh melupai, sedangkan setiap derita yang kita lalui adalah ranting seni menuju ke pengalaman insani.
harusnya kita sabar meneliti, daripada hanya biarkan ia mengalir dan mengulangi.
cukuplah, sudah banyak yang tertinggal.
penat untuk dikejarkan.
titip setiap detik waktu yang tinggal.
biar akarnya yang sebarkan.
tributasi:
Biar sesekali diancam cemas, merentap pepohon berembun sejuk, menyentuh luka tika pagi menggigil, untuk jiwa ikhlas yang pedihnya sentiasa terasa aman.
Wednesday, August 3, 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)
